Daviena adalah bayi perempuan kecil yang seharusnya tumbuh ceria seperti bayi lainnya. Namun sejak usia 6 bulan, hidupnya diwarnai perjuangan berat yang bahkan sulit dibayangkan oleh orang dewasa sekalipun.
Saat itu, Daviena tiba-tiba menangis hebat. Tubuh mungilnya membiru, terutama di bagian tangan dan mulut. Orang tuanya panik. Ia segera dibawa ke puskesmas, lalu dirujuk ke rumah sakit. Dari situlah terungkap kenyataan pahit: Daviena mengalami kelainan jantung bawaan yang kompleks.

Dokter mendiagnosis Daviena menderita Tetralogy of Fallot, yaitu kelainan jantung bawaan serius yang menyebabkan darah kekurangan oksigen. Ada lubang di sekat jantungnya, aliran darah ke paru-paru terhambat, dan struktur pembuluh darahnya tidak normal. Kondisi ini membuat Daviena mudah lelah, tumbuh lebih lambat, dan tidak mampu beraktivitas seperti bayi seusianya.
Untuk memastikan kondisi jantungnya, Daviena harus menjalani kateterisasi jantung, sebuah prosedur invasif yang dilakukan melalui pembuluh darah di paha dengan bius total. Hasilnya menegaskan satu hal: Daviena tidak bisa sembuh hanya dengan obat. Ia harus menjalani operasi jantung besar.
Harus Operasi Rastelli, Tapi Biayanya Terlalu Mahal
Daviena dirujuk ke Jakarta karena keterbatasan alat di Rumah Sakit terdekat rumahnya. Selama 1 bulan penuh, orang tuanya bertahan di Jakarta untuk menjalani rangkaian pemeriksaan pra operasi: rontgen, tes laboratorium, hingga pemeriksaan saraf otak yang mengharuskan Daviena tertidur. Namun cobaan belum berakhir.
Dokter menyampaikan bahwa kondisi Daviena berbeda dari pasien lainnya. Ia harus menjalani operasi Rastelli dengan alat khusus bernama Contegra. Sayangnya, operasi ini tidak bisa langsung ditangani melalui BPJS. Jika menggunakan BPJS, Daviena harus mengantri kurang lebih selama 2–3 tahun. Waktu yang terlalu lama untuk jantung sekecil miliknya. Sementara jika dilakukan secara mandiri, biaya yang dibutuhkan mencapai Rp85–90 juta untuk satu kali operasi, termasuk alatnya.
Keterbatasan Orang Tua
Ayah Daviena hanyalah buruh harian di toko burung, dengan penghasilan tidak menentu sekitar 50.000–70.000 rupiah per hari, bekerja dari pagi hingga sore. Ibunya, Ummu Hanifah, adalah ibu rumah tangga yang sepenuhnya mendampingi Daviena.
Untuk makan pun Daviena harus dibantu selang setiap 3 jam. Kontrol jantung dilakukan rutin setiap bulan, echo jantung setiap 4 bulan, dan pemantauan intensif terus berjalan. Semua dilakukan dengan BPJS semampunya, sambil berharap ada jalan keluar untuk biaya operasi.
Beberapa bantuan telah datang dari lingkungan sekitar dan lembaga sosial. Namun jumlahnya masih jauh dari cukup untuk menyelamatkan nyawa Daviena.
Harapan Kecil dari Jantung yang Rapuh
Orang tua Daviena tidak pernah bermimpi tentang hal besar. Mereka hanya ingin melihat putrinya bernapas tanpa harus berjuang, menangis tanpa tubuhnya membiru, dan tertidur tanpa selang yang menempel di tubuh kecilnya.
Setiap hari mereka hidup dalam kecemasan yang sama: apakah jantung mungil itu masih cukup kuat untuk esok hari? Daviena belum mengerti arti sakit, belum paham mengapa tubuhnya mudah lelah, atau mengapa ia tak bisa bergerak sebebas anak-anak lain seusianya.
Waktu terus berjalan, sementara jantung Daviena tidak bisa menunggu. Tanpa operasi, risikonya semakin besar. Dan di balik senyum kecilnya, ada harapan sederhana yang sedang dipertaruhkan: kesempatan untuk hidup dan tumbuh seperti anak lainnya.
Ayo Jadi Bagian dari Kesembuhan Daviena
Hari ini, kita bisa menjadi harapan bagi Daviena. Sedikit dari kita, sangat berarti bagi hidupnya.
Mari ulurkan tangan, ringankan langkah orang tuanya, dan selamatkan masa depan Daviena.
Setiap rupiah donasi Anda adalah langkah menuju operasi jantung yang menyelamatkan nyawa.
Belum ada kabar terbaru dari penggalang dana.