Di Pelosok Negeri, Anak-Anak Menunggu Giliran Mengaji

Banjir Bandang dan Tanah Longsor Di Aceh pada akhir tahun 2025, mengakibatkan banyak masjid dan mushala berdiri dalam kondisi rusak dan penuh keterbatasan. Sebagian masih dipakai shalat dan mengaji meski lantainya basah, dindingnya retak, dan Al-Qur’an yang dulu ada banyak yang hanyut, rusak, atau tak tersisa. Bagi para jamaah, mereka bukan hanya kehilangan rumah dan harta, tapi juga kehilangan sarana ibadah dan pegangan hidup yang selama ini menenangkan jiwa.
Di tempat lain, di pelosok-pelosok negeri dan wilayah terpencil, kondisi tak jauh berbeda. Anak-anak dan para santri belajar mengaji dengan mushaf yang terbatas, lusuh, bahkan harus bergantian. Ada yang menunggu giliran. Ada yang ingin belajar, tapi Al-Qur’an tak cukup untuk semua.

Padahal, setiap huruf Al-Qur’an adalah pahala. Dan setiap mushaf yang kita hadiahkan, menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir—bahkan saat kita telah tiada. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.” (HR. Tirmidzi)

Melalui program Tebar 1001 Al-Qur’an, mari kita hadirkan kembali cahaya Al-Qur’an ke masjid, mushala, pesantren, dan hunian-hunian sederhana—baik di wilayah pascabencana maupun daerah-daerah terpencil. Satu mushaf dari Anda bisa menjadi sebab bangkitnya kembali semangat mereka yang tertimpa musibah, hidupnya kembali majelis-majelis tilawah, dan tumbuhnya generasi Qurani di penjuru negeri.
Belum ada kabar terbaru dari penggalang dana.